Sabtu, 25 Oktober 2014

MENGEJAR JILBAB
Awal masuk tahun ajaaran baru tepatnya hari pertama MOPD di SMP. Ketika  pagi buta aku melihat keanehan dalam diriku, aku terdiam seraya berdoa kepada Tuhan jika aku berada dalam lindungannya. Ku berfikir ini adaalah suatu kelainan berupa penyakit. Lama ku terdiam dan akhirnya aku memutuskan untuk bercerita pada ibuku , aku bertanya pada ibuku  “bercak merah apa ini bu ?” Dengan tenang dan lembutnya ia mengatakan jika itu adalah hal yang wajar , yang akan dialami semua wanita yang sudah akhir baligh, “lalu aku harus berbuat apa bu ?” Berarti segala perintah Tuhan harus kamu kerjakan mulai dari salat dan masih banyak lagi, dan itu perlu ilmu yang cukup dan jika kamu tidak menjalankan perintahNya maka kamu sudah berdosa “  Karenanya aku bertekad  harus mencari tau tentang perintah Nya”  Berebekal nasihat ibu aku terus langkahkan kaki untuk mencari dan mempelajari perintahNya.
Tahun demi tahun terlewati aku harus dan terus mencari pengetahuan tentang mengapa aku diciptakan, apa tujuanku diciptakan, dan apa saja perintah dan laranganNya. Tepat dihari kelahiranku saat aku berumur 14 tahun, aku diberikan kado berupa Jilbab oleh ibuku  “ ini kado dari ibu, cari taulah tentang hal ini, serta pakailah “ Kata-kata ibu selalu terngiang dalam benakku. “ Mengapa aku harus memakai itu ? apakah ini salah satu dari perintahnaya ?”  Aku bertanya kepada  teman sahabat dan guru, mereka menjawab bahwa itu perintahNya yang harus kita taati. Batinku belum puas dengan jawaban itu dan berniat mempertanyaakan hal itu dengan orang yang selainnya. Saat itu hari libur telah tiba dan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, kami sekeluarga pergi kemasjid untuk melakukan solat ID, wanita muslim dewasa semuanya mengenakkan jilbab padahal kesehariannya tidak mengenakan jilbab, aku mulai terdiam lagi dan mengamati disekelilingku. “ Tuhan apa maksud dari keadaan ini ?”
Liburan telah usai dan aku mulai bersekolah kembali . Disekolah nampaknya ada yang berbeda dari pandanganku. Si ica terlihat berbeda dengan tampilannya . Rupanya ia sudah mengenakan jilbab. Terlihat jilbab putih itu dikenakkannya namun dengan tatapan sedih. “mengapa kau sedih, kau terlihat cantik dengan jilbab dikepalamu itu hehe “ . “ Hah kau ini, antara memuji dan mengolok aku berbeda tipis !” “Bukan seperti itu, aku kaget kenapa dirimu bisa seperti ini dan mengapa kau memakai jilbab ?”  Jawabnya dengan nada yang berbeda  “ iya aku memakai jilbab ini karena perintah dari ayahku, jika aku tidak mengenakkan jilbab ,aku akan diberi hukuman .” Mendengar cerita dari ica aku lagi-lagi terdiam dan memahami maksud dari kejadian itu. Mengapa hal itu terjadi , mengapa ia menggunakan jilbab karena takut diberi hukuman oleh ayahnya. Tiba dimana hari yang telah aku tunggu-tunggu, yaitu hari dimana  ada pelajaran Agama Islam , Pagi itu Pak Syafruddin datang dengan wajah yang bergembira. Rupanya lusa lalu ia baru mempunyai seorang anak laki-laki yang beliau  idam- idamkan maklumlah ia sudah mempunya dua orang anak perempuan sebelumnya hehe…  Setelah dipersilahkan bertanya oleh beliau aku langsung mengacungkan tangan , “ Aku kembali bertanya dengan lantang  mengapa setiap wanita muslim yang sudah dewasa harus memakai jilbab ? “  Beliau malah meledekku karena bertanyanya terlalu bersemangat seperti orang mau berperang katanya. “ Lagi – lagi aku menerima jawaban yang sama, ya karena perintahNya “. Aku belum merasa puas ,masih ada yang mengganjal dalam diriku. Benakku masih  mempertanyakan apakah ada alasan lain selain jawaban-jawaban yang pernah aku terima.  Dalam kesendirianku hanya ada satu pertanyaan di benakku, Dimana pertanyaanku akan terjawab  dan siapa yang bisa menjawab pertanyaanku . Disela sujudku aku bermunajat kepada Nya ,  Tuhan beri aku kekuatan untuk menjawab segala pertanyaanku. Aku tidak memohon diberi kemudahan tapi aku meminta diberi kekuatan dari setiap hal yang harus ku hadapi.
Pendidikan SMP telah kulewati , Saat ini aku baru saja masuk dalam dunia yang baru, banyak orang mengatakan masa  ini adalah masa masa yang paling indah dan masa- masa yang tak terlupakan, entah itu hanya omongan belaka atau apa  aku tidak tau, aku hanya berfikir semoga masa yang baru ini akan mendewasakan ku tuk jadi orang yang dewasa.  Disana aku mempunyai banyak teman , bertukar pikiran dan berdiskusi dengan hal apa saja yang menurutku adalah hal yang bermanfaat. Hal-hal seperti itu bagiku adalah hal yang  menyenangkan walaupun banyak dari temanku hal ini adalah hal yang membosankan.  Satu tahun  telah ku lewati banyak kejadian yang membuat ku terdiam dan memahami maksud dari kejadian-kejadian yang ku temui. Di tahun kedua dimasa yang baru itu pertanyaanku belum jua terjawab.  Ada seorang teman yang menghampiriku saat itu adalah Hari Jumat dimana setiap wanita muslim diwajibkan mengenakkan jilbab, “ tika lihatlah  kamu lebih cocok mengenakkan jilbab , hehe ?”,  “ iya tapi aku belum siap ”. Dari kejadian itu aku bertanya pada diriku sendiri mengapa aku belum siap, bukan kah itu adalah perintahNya yang wajib ditaati.  Apakah karena pertanyaan itu aku lantas melanggar ketentuanNya?. Aku mulai memantapkan untuk segera mengenakan jilbab, mencari cara untuk menuju tujuan itu, entah cara apa yang aku maksud. Disaat aku berada dirumah annisa salah satu temanku, dari sekian lama perbincangan yang telah kita lewati akhirnya mengarah pada kisah  zaman dulu tentang perjuangan jilbab. Ia mengatakn zaman dahulu untuk mempertahankan jilbab harus mempertaruhkan keimanannya beserta nyawa.  Mendengar cerita itu aku menagis sesegukan , aku berfikir di saat ini orang memakai jilbab dengan mudahnya tapi kebanyakan orang termasuk aku menunda-nunda mengenakkannya. Dahulu mempertaruhkan jilbab harus bertarung dan bertaruh dengan nyawa hanya demi patuh dan taat kepada Tuhan. Mengapa kita saat ini meninggalkan perintahNya dengan begitu  mudah.    Dengan mempelajari kisah –kisah zaman dahulu, aku memahami perjuangan yang menumpahkan darah untuk menegakkan perintah Tuhan. Saat ini kita hanya meneruskan perjuangan yang sangat susah payah, sungguh sangat ringan dibandingkan pengorbanan dimasa silam . Ada balasan dari segala yang kita perbuat, namun tergantung pribadi masing-masing untuk menentukkan langkahnya dan aku  teringat kata-kata temanku  ,memang benar  seberkas cahaya dapat menyinari kehidupan manusia di dunia . Dua bulan sebelum  berusia 17 tahun, aku memutuskan untuk mengenakkan jilbab bukan karena paksaan tapi tulus untuk mematuhi segala perintah dan laranganNya .   


TIKA INTAN SAPUTRI

0 komentar:

Posting Komentar