MENGEJAR JILBAB
Awal
masuk tahun ajaaran baru tepatnya hari pertama MOPD di SMP. Ketika pagi buta aku melihat keanehan dalam diriku,
aku terdiam seraya berdoa kepada Tuhan jika aku berada dalam lindungannya. Ku
berfikir ini adaalah suatu kelainan berupa penyakit. Lama ku terdiam dan
akhirnya aku memutuskan untuk bercerita pada ibuku , aku bertanya pada
ibuku “bercak merah apa ini bu ?” Dengan
tenang dan lembutnya ia mengatakan jika itu adalah hal yang wajar , yang akan
dialami semua wanita yang sudah akhir baligh, “lalu aku harus berbuat apa bu ?”
Berarti segala perintah Tuhan harus kamu kerjakan mulai dari salat dan masih
banyak lagi, dan itu perlu ilmu yang cukup dan jika kamu tidak menjalankan
perintahNya maka kamu sudah berdosa “ Karenanya aku bertekad harus mencari tau tentang perintah Nya” Berebekal nasihat ibu aku terus langkahkan
kaki untuk mencari dan mempelajari perintahNya.
Tahun
demi tahun terlewati aku harus dan terus mencari pengetahuan tentang mengapa
aku diciptakan, apa tujuanku diciptakan, dan apa saja perintah dan laranganNya.
Tepat dihari kelahiranku saat aku berumur 14 tahun, aku diberikan kado berupa
Jilbab oleh ibuku “ ini kado dari ibu,
cari taulah tentang hal ini, serta pakailah “ Kata-kata ibu selalu terngiang
dalam benakku. “ Mengapa aku harus memakai itu ? apakah ini salah satu dari
perintahnaya ?” Aku bertanya kepada teman sahabat dan guru, mereka menjawab bahwa
itu perintahNya yang harus kita taati. Batinku belum puas dengan jawaban itu
dan berniat mempertanyaakan hal itu dengan orang yang selainnya. Saat itu hari
libur telah tiba dan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, kami sekeluarga
pergi kemasjid untuk melakukan solat ID, wanita muslim dewasa semuanya
mengenakkan jilbab padahal kesehariannya tidak mengenakan jilbab, aku mulai
terdiam lagi dan mengamati disekelilingku. “ Tuhan apa maksud dari keadaan ini
?”
Liburan
telah usai dan aku mulai bersekolah kembali . Disekolah nampaknya ada yang
berbeda dari pandanganku. Si ica terlihat berbeda dengan tampilannya . Rupanya
ia sudah mengenakan jilbab. Terlihat jilbab putih itu dikenakkannya namun
dengan tatapan sedih. “mengapa kau sedih, kau terlihat cantik dengan jilbab
dikepalamu itu hehe “ . “ Hah kau ini, antara memuji dan mengolok aku berbeda
tipis !” “Bukan seperti itu, aku kaget kenapa dirimu bisa seperti ini dan
mengapa kau memakai jilbab ?” Jawabnya
dengan nada yang berbeda “ iya aku
memakai jilbab ini karena perintah dari ayahku, jika aku tidak mengenakkan
jilbab ,aku akan diberi hukuman .” Mendengar cerita dari ica aku lagi-lagi
terdiam dan memahami maksud dari kejadian itu. Mengapa hal itu terjadi ,
mengapa ia menggunakan jilbab karena takut diberi hukuman oleh ayahnya. Tiba
dimana hari yang telah aku tunggu-tunggu, yaitu hari dimana ada pelajaran Agama Islam , Pagi itu Pak
Syafruddin datang dengan wajah yang bergembira. Rupanya lusa lalu ia baru
mempunyai seorang anak laki-laki yang beliau
idam- idamkan maklumlah ia sudah mempunya dua orang anak perempuan
sebelumnya hehe… Setelah dipersilahkan
bertanya oleh beliau aku langsung mengacungkan tangan , “ Aku kembali bertanya
dengan lantang mengapa setiap wanita
muslim yang sudah dewasa harus memakai jilbab ? “ Beliau malah meledekku karena bertanyanya
terlalu bersemangat seperti orang mau berperang katanya. “ Lagi – lagi aku
menerima jawaban yang sama, ya karena perintahNya “. Aku belum merasa puas
,masih ada yang mengganjal dalam diriku. Benakku masih mempertanyakan apakah ada alasan lain selain
jawaban-jawaban yang pernah aku terima.
Dalam kesendirianku hanya ada satu pertanyaan di benakku, Dimana
pertanyaanku akan terjawab dan siapa
yang bisa menjawab pertanyaanku . Disela sujudku aku bermunajat kepada Nya
, Tuhan beri aku kekuatan untuk menjawab
segala pertanyaanku. Aku tidak memohon diberi kemudahan tapi aku meminta diberi
kekuatan dari setiap hal yang harus ku hadapi.
Pendidikan
SMP telah kulewati , Saat ini aku baru saja masuk dalam dunia yang baru, banyak
orang mengatakan masa ini adalah masa
masa yang paling indah dan masa- masa yang tak terlupakan, entah itu hanya
omongan belaka atau apa aku tidak tau,
aku hanya berfikir semoga masa yang baru ini akan mendewasakan ku tuk jadi
orang yang dewasa. Disana aku mempunyai
banyak teman , bertukar pikiran dan berdiskusi dengan hal apa saja yang
menurutku adalah hal yang bermanfaat. Hal-hal seperti itu bagiku adalah hal
yang menyenangkan walaupun banyak dari
temanku hal ini adalah hal yang membosankan.
Satu tahun telah ku lewati banyak
kejadian yang membuat ku terdiam dan memahami maksud dari kejadian-kejadian
yang ku temui. Di tahun kedua dimasa yang baru itu pertanyaanku belum jua
terjawab. Ada seorang teman yang
menghampiriku saat itu adalah Hari Jumat dimana setiap wanita muslim diwajibkan
mengenakkan jilbab, “ tika lihatlah kamu
lebih cocok mengenakkan jilbab , hehe ?”,
“ iya tapi aku belum siap ”. Dari kejadian itu aku bertanya pada diriku
sendiri mengapa aku belum siap, bukan kah itu adalah perintahNya yang wajib
ditaati. Apakah karena pertanyaan itu
aku lantas melanggar ketentuanNya?. Aku mulai memantapkan untuk segera
mengenakan jilbab, mencari cara untuk menuju tujuan itu, entah cara apa yang
aku maksud. Disaat aku berada dirumah annisa salah satu temanku, dari sekian
lama perbincangan yang telah kita lewati akhirnya mengarah pada kisah zaman dulu tentang perjuangan jilbab. Ia
mengatakn zaman dahulu untuk mempertahankan jilbab harus mempertaruhkan
keimanannya beserta nyawa. Mendengar
cerita itu aku menagis sesegukan , aku berfikir di saat ini orang memakai
jilbab dengan mudahnya tapi kebanyakan orang termasuk aku menunda-nunda
mengenakkannya. Dahulu mempertaruhkan jilbab harus bertarung dan bertaruh
dengan nyawa hanya demi patuh dan taat kepada Tuhan. Mengapa kita saat ini
meninggalkan perintahNya dengan begitu
mudah. Dengan mempelajari kisah –kisah zaman dahulu,
aku memahami perjuangan yang menumpahkan darah untuk menegakkan perintah Tuhan.
Saat ini kita hanya meneruskan perjuangan yang sangat susah payah, sungguh
sangat ringan dibandingkan pengorbanan dimasa silam . Ada balasan dari segala yang
kita perbuat, namun tergantung pribadi masing-masing untuk menentukkan
langkahnya dan aku teringat kata-kata
temanku ,memang benar seberkas cahaya dapat menyinari kehidupan
manusia di dunia . Dua bulan sebelum
berusia 17 tahun, aku memutuskan untuk mengenakkan jilbab bukan karena
paksaan tapi tulus untuk mematuhi segala perintah dan laranganNya .
TIKA INTAN SAPUTRI
0 komentar:
Posting Komentar