Menjadi orang yang berilmu memang membutuhkan kepayahan.Karena ilmu sangatlah penting bagi kehidupan kita.Di antara kisah yang perlu kita cermati adalah kisah Nabi Musa yang belajar kepada Khidhir, manusia biasa yang derajatnya di bawah Nabi Musa. Latar belakang yang membuat Musa belajar lagi, sekalipun beliau adalah seorang Nabi adalah ketika ada salah seorang dari kaumnya yang bertanya ketika beliau sedang berkhutbah, siapakah manusia yang paling berilmu ? Lalu Nabi menjawab, saya. Kemudian Allah menegurnya karena tidak mengembalikan ilmunya kepada-Nya, dan mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa di tempat pertemuan dua lautan adalah seorang hamba shalih yang lebih berilmu dari pada Nabi Musa. Akhirnya, Nabi Musa bersama pembantunya pergi mengarungi lautan, hanya untuk menambah ilmu yang tidak diketahuinya, sekalipun pada saat itu, posisi beliau sudah menjadi Nabi, dan termasuk Rasul ulul azmi.Sekelas Nabi pun mau bersusah payah untuk mendapatkan ilmu apalagi kita yang hanya manusia biasa. Karenanya jadilah seorang pembelajar terus menerus.
Manusia butuh yang namanya kekuatan , kekuatan ilmiah dan
kekuatan amaliah . Pernah terdengar amal tanpa ilmu adalah sesat dan ilmu tidak
ada amal akan menimbulkan kemudhoratan , Karenanya ilmu dan amal salinglah
berkaitan.
Seorang muslim wajib menuntut ilmu . Sampai Imam
Ahmad bin Hamdal berkata , manusia itu sangat berhajat melebihi makan dan
minum, Sedangkan hajat ilmu seperti bilangan nafasmu. Artinya kita butuh ilmu
melebihi makan dan minum. Secara tak sadar bahwa kehidupan kita didasari
dengan ilmu seperti shalat,berdzikir yang sering kita lakukan, hal-hal
itu merupakan yang disukai Allah. Kita tidak akan melakukan hal itu jika kita
tidak tau manfaatnya untuk kita. Karenanya tidak ada alasan bagi kita untuk
tidak menuntut ilmu.
Surat Ali Imran :18 merupakan ayat yang menjelaskan
keutamaan Ilmu bahwa Allah telah menjelaskan bahwa tiada Tuhan selain Dia.
Demikianpun malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan,tidak ada Tuhan
selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. Dalam hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad pun dijelaskan keutamaan orang yang menuntut ilmu yatu Barang
siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu akan diberi kemudahan ke Surga serta
Allah membanggakan didepan malikat kepada orang yang menuntut ilmu
Dalam agama hukum wajib menuntut ilmu bagi setiap
muslim ini dibagi menjadi dua. Yang pertama Fardhu ‘ain, menuntut ilmu hukumnya
menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslim, jika menjadi prasyarat untuk mengetahui
sebuah ketauhidan, ibadah atau mu’amalah yang hendak dikerjakan. Dalam kondisi
seperti ini, wajib baginya untuk mengetahui bagaimana caranya ibadah kepada
Allah dan cara bermu’amalah. Fardhu kifayah, thalabul ilmi pada asalnya
hukumnya fardhu kifayah. Jika sudah ada sebagian orang yang mengerjakan maka
bagi yang lain hukummnya sunnah. Hal-hal ini berkaitan dengan thalabul ilmi
yang tidak termasuk dalam fardhu ‘ain di atas hukumnya adalah fardhu kifayah.
Perlu kita ketahui bersama ilmu yang harus kita ketahui adalah yang
sifatnya fardhu 'ain. Jadi kita harus bisa memprioritaskan mana yang fardhu'ain
dan fardhu kifayah dalam hal memnuntut ilmu.
Ilmu menjadi hal yang sangat utama. Contohnya Nabi
Adam AS lebih dimuliakan dibanding malaikat karena ilmu yang dimilikinya. Allah
mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam sehingga ia bisa menjawab
benda-benda yang diperintahkan oleh Allah untuk menyebutnya, sementara malaikat
tidak bisa menyebut nama-nama benda itu. Dengan ketinggian ilmu yang dimiliki
oleh nabi Adam, Allah menyuruh malaikat untuk memuliakan Nabi Adam dengan bersujud
kepadanya. Ini membuktikan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berilmu.
Peristiwa ini diabadikan oleh Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 31-35.
Banyak kisah perjalanan ulama dalam menuntut ilmu . Seperti
kitab yang dihasilkan melalui perjuangan Ibn Abi Hatim yang
tidaklah mudah yang telah mencurahkan sebagian besar waktunya untuk
mengkaji hadist Nabi dengan berbagai keterbatasannya, sampai harus menjual
pakaian yang dimiliki satu persatu setiap hari hingga tinggal
sehelai pakaian yang dikenakan. Kitab yang bagus itu diselesaikan
dengan perjuangan yang panjang dan dengannya kitab yang dihasilkan
menjadi penting bagi ulama berikutnya.
Ciri para penuntut ilmu adalah saling menyayangi dan
mencintai sesama muslim karena buah dari ilmu adalah kasih sayang. Dan yang
tidak kalah penting kita harus mau belajar dari siapapun . Jangan lihat siapa
yang berbicara namun lihatlah apa yang dibicarakan.
Ketika zaman dahulu dengan
segala keterbatasannya mampu menciptakan karya-karya yang hebat,seharusnya
kita lebih mampu menciptakan karya-karya yang jauh lebih hebat dengan
berbagai kemudahan pada zaman ini. Mudah-mudahan dengan mengetahui materi ini
dapat memotifasi kita untuk terus menjadi seorang pembelajar yang hebat.
12/08/15
0 komentar:
Posting Komentar